Senin, 25 Januari 2016

Cerpen Sedih

NINDYA
     Orang tua mana yang tidak bahagia saat anaknya lahir. “Anindya Fauziah” itulah nama yang aku sematkan kepada putri pertamaku yang baru lahir, seorang putri cantik nan imut. Ku rawat ia bersama istriku dengan kasih sayang melebihi rasa sayangku kepada segalanya, ku mandikan dia dan ku ceboki dia saat dia be’ol.
     Dan betapa terkejutnya aku saat aku lagi bekerja mendengar kabar bahwa putri kecilku jatuh dari atas ranjang saat ditinggal istriku masak di dapur. Tidak tunggu waktu lama aku langsung pamit kepada atasanku untuk pulang ke rumah. Di perjalanan hatiku cemas dan ingin cepat sampai di rumah. Setibanya dirumah aku mendapati putriku menangis dengan keras, tanpa basa-basi aku langsung membawa putri kecilku ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumahku.
     “Anak bapak-ibu mengalami benturan di kepalanya, benturan itu mengarah langsung ke saraf, tapi untunglah ia masih selamat. Tapi anak bapak-ibu tidak bisa tumbuh besar lebih dari 120 cm.” kata dokter yang menangani nindya (putri kecilku)
     “Dokter bercanda kan Dok?” balasku tidak yakin.
     “Bapak-ibu yang sabar ya” kata dokter memberi semangat.
     “Ini semua salahku” kata istriku dengan menangis kecewa menyalahkan dirinya.
     “Sabar Ma, ngk apa-apa yang penting putri kita masih selamat. Toh kita masih bisa melihat dia bahagia.” Kataku untuk menyemangati istriku.
     Kini kami semakin sayang kepada nindya, dan kami berjanji akan memberikan ia perhatian lebih, lebih dari sebelumnya.
**
     Kini putri kecilku sudah duduk di bangku kelas XI SMA, dan vonis yang dikatakan dokter waktu itu memang nyata, meskipun sudah berusia 16 tahun tingginya hanya setinggi dadaku tidak lebih dari itu. Pernah suatu ketika ia tanya kepadaku
     “Yah, dari dulu aku kok hanya setyinggi ini sih Yah, padahal teman-temanku jauh lebih tinggi dariku. Kenapa ya Yah?”
     Aku hanya diam, orang tua mana yang bisa menjawab pertanyaan seperti itu? Aku takut kalau aku berkata jujur ia akan marah kepada ibunya, karena ibunya lah penyebab semua ini. Ibunya selalu menangis saat mendengar nindya bertanya seperti itu. Nindya bercita-cita menjadi POLWAN, walaupun postur tubuhnya tidak mendukung ia tetap berusaha untuk menjadi lebih tinggi, setiap pagi ia jogging dan loncat beberapa kali berharap ia bisa menjadi lebih tinggi dari postur tubuhnya saat ini
     Beberapa hari kemudian ia kembali bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama.
     “Yah, dari dulu aku kok hanya setinggi ini sih Yah, padahal kan aku sudah rajin berolah raga tapi tetap aja segini. Padahal kan aku ingin menjadi POLWAN.
     Aku tetap diam dan berusaha mencari topik pembicaraan lain, tapi karena sudah tidak kuat memendam masa lalu yang selalu membuatnya menangis, istriku bercerita terus terang kepada nindya.
     “Maafkan ibu Nindya, sebenarnya waktu kamu kecil kamu jatuh dari atas ranjang ketika ibu meninggalkanmu sendirian untuk memasak di dapur. Dan itu menyebabkan kamu tidak bisa tumbuh tinggi lebih dari 120 cm. maafkan ibu Nindya, ibu sangat menyesal.”
     Seperti yang aku tebak sebelumnya, nindya sangat kecewa kepada ibunya.
     “Kenapa ibu tidak bilang sejak dulu? Percuma saja selama ini aku berusaha untuk menjadi lebih tinggi. Aku kecewa kepada ibu.” Kata nindya.
     Saat itu juga nindya berlari ke luar rumah entah kemana, aku dan istriku mengejar namun sia-sia
***
     Beberapa hari setelah nindya kabur dari rumah, kami mendengar kabar bahwa nindya ditemukan sudah tidak bernyawa di dasar jurang dengan selembar surat di saku bajunya
     “Aku kecewa kepada Ayah-Ibu, karena tidak memberi tau  apa yang sebenarnya terjadi kepadaku lebih awal, aku hanya ingin menjadi POLWAN. Itulah satu-satunya keinginan terbesarku, untuk apa aku hidup jika gagal menjadi POLWAN. Mungkin ini adalah cara terbaik bagiku.
     Selamat tinggal Ayah-Ibu, terima kasih telah merawatku dengan kasih sayang.”

                                                                                                                                                                                Anindya Fauziah

      Sejak meninggalnya nindya istriku sering merenung sendirian memanggil nama nindya, karena ia yang paling merasa bersalah.
     Selamat jalan Nindya, selamat jalan putriku. Tunggu Ayah-Ibu disana untuk menebus kesalahan yang pernah kita perbuat kepadamu. Selamat jalan Putriku semoga kau tenang dialam sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar